Sirimavo Bandaranaike
Pionir kepemimpinan perempuan dunia yang terpilih menjadi Perdana Menteri Sri Lanka tiga kali (1960-1965, 1970-1977, 1994-2000) dan menjadi tokoh utama Gerakan Non-Blok.
"Sebagai seorang ibu, saya tahu bahwa air mata yang tumpah akibat perang dan ketidakadilan terasa sama asinnya bagi setiap orang."
1. Masa Awal & Latar Belakang
Lahir di keluarga bangsawan Sinhala Kandy, ia aktif dalam organisasi kesejahteraan sosial desa perempuan sebelum suaminya, PM Solomon Bandaranaike, dibunuh oleh ekstremis pada 1959.
2. Perjalanan Karier & Terobosan Utama
Tampil memimpin Partai Kebebasan Sri Lanka (SLFP), ia memenangkan pemilu 1960, mengejutkan pers internasional yang menjulukinya 'The Weeping Widow' (Janda yang Menangis).
3. Tantangan & Diskriminasi yang Ditembus
Menghadapi percobaan kudeta militer pada 1962 dan pemberontakan marxis pemuda JVP pada 1971 yang berhasil ia padamkan demi memelihara integritas konstitusional.
4. Warisan Abadi & Pengaruh Bagi Dunia
Mengganti nama negara dari dominion Sailan (Ceylon) menjadi Republik Sri Lanka pada 1972 dan menginspirasi gelombang emansipasi politik wanita di seluruh Asia dan dunia.