Cut Nyak Dhien
Panglima perang wanita legendaris Tanah Rencong yang keberanian dan keteguhan imannya memimpin perlawanan bersenjata paling berdarah dan terlama yang pernah dihadapi tentara kolonial Hindia Belanda.
"Sebagai perempuan Muslim, kita tidak boleh menumpahkan air mata bagi mereka yang gugur sebagai syuhada di jalan kebenaran!"
1. Masa Awal & Latar Belakang
Lahir dari keluarga bangsawan agamis di Nagan Raya, ia bersumpah akan memerangi penjajah Belanda setelah suami pertamanya Teuku Ibrahim Lamnga syahid dalam pertempuran di Gle Tarum pada 1878.
2. Perjalanan Karier & Terobosan Utama
Menikah dengan Teuku Umar dengan syarat diizinkan ikut bertempur di garis depan. Bersama suaminya, ia menyusun siasat pura-pura berdamai dengan Belanda untuk menguasai senjata dan logistik modern sebelum berbalik menyerang dalam pertempuran Meulaboh.
3. Tantangan & Diskriminasi yang Ditembus
Setelah Teuku Umar gugur pada 1899, Cut Nyak Dhien meneruskan komando gerilya di hutan belantara bertahun-tahun dalam kondisi menderita penyakit rabun mata dan encok parah.
4. Warisan Abadi & Pengaruh Bagi Dunia
Ditangkap karena laporan panglimanya yang iba melihat kesehatannya, ia diasingkan ke Sumedang di mana ia dihormati masyarakat Sunda sebagai guru mengaji Al-Quran agung bergelar 'Ibu Perbu'.